Berita Lowongan Kerja Terbaru
Panas Pela Negeri Amahai-Ihamahu Bukti Saksi Sejarah

Masohi,

Panas pela bukti saksi sejarah bukan semata-mata sebagai ekspresi serimonial tentang peradaban sejarah kedua negeri yang patut di lestarikan, namun sebagai suguhan moral yang religius dengan bermakna bahwa umat manusia di bumi akan memiliki rasa persaudaraan.

Panas pela negeri Amahai (Lounussa Ma’Atita) dengan negeri Ihamahu (Noraito Amapati)  dihadiri oleh Maichael Wattimena anggota DPR RI, Gubernur Maluku Ir, Said Assagaf, Ketua DPRD Maluku Edwin Huwae, pimpinan SKPD Provinsi Maluku dan Maluku Tengah, TNI/Polri, undangan dan masyarakat kedua negeri.

Tatanan adat dan budaya dalam ikatan pela yang ditanamkan kedua negeri ini sudah mencapai 117 tahun, dan masih tetap bertahan hingga kini dimana kedua negeri ini membuktikan kalau naskah perjanjian kedua negeri yang memiliki nilai-nilai adat dan budaya pela sebagai pela tempat siri ini masih diwariskan kepada anak cucu kedua negeri.

Gubernur Maluku dalam sambutannya menyampaikan bahwa ikatan pela sebagai identitas manusia Maluku yang khas sesungguhnya telah menyuguhkan sebuah tingkat keadaban yang tinggi dalam pertalian sejati hidup orang basudara sebagaimana ungkapan luhur katong samua yaitu “potong dikuku rasa didaging, ale rasa beta rasa dan sagu salempeng dibagi dua”, merupakan ungkapan yang menjujung tinggi nilai-nilai persaudaraan sejati yang telah dibangun oleh para leluhur agar orang basudara bisa belajar saling memahami, saling mempercayai, saling memiliki, saling mencintai, saling membanggakan dan saling untuk menghidupi. Ungkapan “ale rasa beta rasa” sebetulnya mencerminkan sketsa manusia Maluku yang tidak hanya berhubungan secara genelogis semata, namun lebih dari pada itu mengekspresikan manusia Maluku sebagai makhluk sosial yang sangat adaptis.

Bukti hubungan persaudaraan masyarakat negeri Amahai dan negeri Ihamahu bukan saja memiliki hubungan geonologis, tetapi juga memiliki hubungan saudara dalam suatu ikatan kasih dari Tuhan Yang Maha Esa,"kata Bupati Malteng Tuasikal Abua, SH pada acara panas pela di Amahai, Kamis (29/9/2016).

Tuasikal yakin ketika semua manusia sadar sebagai umat ciptaan Tuhan yang mulia dan sebagai rumpun orang-orang saudara yang berasal dari satu keturunan Nabi Adam dan Hawa, pasti semua masalah dapat diselesaikan secara kekeluargaan dan tidak mudah terjadi konflik di antara manusia.

Para leluhur kala itu masih hidup dalam keserdehanaan, namun mereka bisa hidup rukun dan damai, saling mengasihi maupun saling menghormati dan saling tolong menolong dalam budaya masohi atau gotong royong.

Tuasikal mengajak seluruh masyarakat kedua negeri maupun masyarakat Maluku harus bangga dan mengapresiasi kegiatan panas pela sebagai bukti bahwa agama maupun adat dan budaya bisa seiring dan sejalan serta dapat dipertahankan turun temurun.

Tentu akan memiliki nilai kearifan lokal yang bernuansa keharmonisan, sakral, religius dan juga selalu mengandung unsur estetik dan normatif yang selalu di jumpai dalam setiap praktek budaya panas pela seperti ini.

"Momentum ini sebagai saksi sejarah yang tidak akan pudar dalam usia jaman bahkan tidak bisa terbantahkan, sehingga sangat penting untuk selalu melakukan ikatan adat dan budaya melalui pelaksanaan ajaran agama dalam kehidupan bermasyarakat sebagai orang saudara,"ajaknya.(TM08)

Read 930 times Last modified on Tuesday, 08 November 2016 06:26

Iklan Layanan Masyarakat

About

Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Maluku

Jl. Dr. Latumeten, Perigi Lima - Ambon

No.Telp/Fax :0911 – 342460

Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

           
 

 

GPR

 
Top