|
Maluku - Tiga menteri Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II, masing-masing Menkokesra Agung Laksono, Menteri Kelautan dan Perikanan (Menperik) Fadel Muhammad dan Menteri Kesehatan Endang Rahayu Sedyaningsih, Minggu (4/6) sekitar pukul 15.30 WIB, melepas secara resmi keberangkatan Kapal Rumah Sakit Apung (KRSA) mewah KRI dr Soeharso dan Satgas Operasi Surya Bhaskara Jaya (SBJ) ke Maluku di Markas Komando TNI AL Tanjung Priok, Jakarta. Ikut melakukan pelepasan, Gubernur Maluku Karel Albert Ralahalu didampingi Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Maluku dr Fat Bahalwan.
Kabag Humas Setda Maluku Semy Huwae kepada Koran ini di ruang kerjanya menjelaskan, acara pelepasan KRI dr Soeharso diawali dengan upacara yang dipimpin Menkokesra Agung Laksono. Usai memimpin upacara, menkokesra bersama para menteri dan Gubernur Maluku melakukan inspeksi ke dalam kapal, meninjau kelengkapan sarana dan prasarana kesehatan penunjang operasi SBJ dalam kapal. Selanjutnya dilakukan pelepasan, bersamaan dengan diterbangkannya ratusan balon gas berlebel ’Sail Banda 2010, Save Small Island for .Our Future’ ke langit Kota Jakarta. KRI dr Soeharso memuat sedikitnya 1667 tenaga medis dan personil TNI AL, termasuk 30 dokter ahli. Dalam Kapal RS Apung mewah sekelas RS Tipe B ini, terdapat 10 klinik, diiantaranya ruang operasi, klinik bedah, klinik mata, klinik THT, klinik gigi, klinik kandungan, klinik farmasi, klinik penyakit dalam, klinik jantung dan laboratorium. Kapal ini dilengkapi dengan sarana ambulance, mobil gawat darurat, obat-obatan, makanan tambahan serta peralatan medis. Sesuai jadwal, kapal ini akan tiba di pelabuhan Makkassar pada tanggal 8 Juli, kemudian melanjutkan perjalanan ke Kota Namlea Kabupaten Buru dan tiba pada tanggal 11 Juli. Setelah melakukan operasi bakti sosial dan kesehatan di Buru dan Maluku Tengah (Malteng), kapal tersebut bertolak ke Ambon dan bergabung dengan kapal kesehatan milik Amerika Serikat US NS Mercy (United States Naval Ship Mercy), serta tim kesehatan dari negara-negara sahabat seperti Singapura, Australia, dan Selandia Baru. Menurut Agung Laksono, Sukses Sail Bunaken 2009 di Provinsi Sulawesi Utara mendorong pemerintah untuk kembali mensukseskan Sail Indonesia Jilid II yang dikenal dengan Sail Banda 2010 di Maluku. Beda dengan Sail Bunaken, Sail Banda katanya lebih ditekankan pada aspek operasi bakti sosial dan kesehatan yang dikenal dengan nama SBJ. SBJ katanya merupakan ikon dari Sail Banda 2010. ”SBJ sesungguhnya telah bertahun-tahun dilaksanakan oleh TNI AL, sehingga menurut hemat saya pada tahun 2010 ini, merupakan sesuatu kegiatan yang relatif baru dari segi kolaborasi lintas instansi pemerintah dan swasta Sebagai hal yang baru tentu ada simpul-simpul teknis yang penanganannya memerlukan waktu dan kesabaran. Tapi dengan kesungguhan, semua itu akan berhasil,” ingat Agung, dikutip Huwae. Agung berharap, ke depan, operasi bakti sosial dan kesehatan akan terus digencarkan, dikembangkan, dan diperbaiki secara bersama-sama antar instansi-intansi agar terjadi pemerataan pelayanan kesehatan di pulau-pulau terpencil, pulau-pulau terluar dan terdepan. ”Ini mestinya dipayungi dengan MoU antara TNI AL, BUMN, Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri dsb,” ingin Agung. ”Saya menangkap bahwa masyarakat Maluku menyambut penuh antusias operasi SBJ ditandai dengan banyaknya permintaan masyarakat untuk disinggahi dan mendapatkan pelayanan kesehatan dari KRI dr Soeharso. Tentunya kita bergembira dengan hal ini dan terima kasih kepada tim untuk memenuhi harapan masyarakat pesisir Maluku, antara lain Buru dan Banda,” ujarnya. Dia mengakui, Satgas Opersi SBJ yang dikirim ke Maluku dalam kaitan dengan pelaksanaan Sail Banda 2010 tidak akan mampu mencover seluruh wilayah pedalaman Maluku, lebih-lebih di daerah terpencil dan daerah perbatasan. ’Di wilayah-wilayah yang tidak terjangkau oleh Tim SBJ, pelayanan kesehatan akan dipenuhi oleh Kementerian Kesehatan melalui tim SMS (Sail Medical Services),” tegas Agung. (SM-11) suara maluku |