Hari / Tanggal : Jumat, 30 Jul 2010



Anda Berada di:     Home Berita Seputar Maluku SAIL BANDA 2010
SAIL BANDA 2010 Cetak Surel
Ditulis oleh Administrator   
Senin, 16 November 2009 08:54

MALUKU - Undang-undang No 17 Tahun 2007 tentang Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) mengisyaratkan bahwa Indonesia sampai dengan tahun 2025 haruslah menjadi suatu Negara kepulauan yang mandiri, maju, kuat dan berbasiskan kepentingan nasional. Kondisi obyektif Indonesia memang sangat memungkinkan untuk kelautan menjadi kekuatan ekonomi asal didukung dengan konsistensi political Wilaya Negara sampai akhir era RPJP. Periode pertama pembangunan jangka panjang akan segera berakhir di tahu 2009 ini. Bertepatan dengan itu, lahir sejumlah event akbar kelautan seperti World Ocean Conference (WOC) Coral Triangle Initiative (CTI) dan sail bunaken dengan jumlah kesukseskannya. Bahkan CTI Merupakan inisiatif murni Presiden SBY. Jika event seperti ini dilakukan secara rutin, tidak mustahil sampai tahun 2025 cita-cita menjadi Negara kepulauan yang kuat dapat dicapai.

 

 

Negara kepulauan yang kuat adalah Negara yang mampu memanfaatkan potensi Kelautan untuk pembangunan ekonominya. WOC, CTI dan Sail Bunaken adalah contoh-contoh pemanfaatan potensi kelautan diatas. Diawal periode kedua RPJP (2010-2014) direncanakan pelaksanaan Sail Banda yang berpusat di Ambon Kata “ Banda “ digunakan karena nama tersebut telah mendunia sejak zaman colonial melalui rempah-rempahnya. Tulisan ini merupakan upaya sosialilasi kepada public di Maluku terhadap momen akbar tersebut di atas.

Ide Sail Banda pertama kali dipresentasikan Menteri Kelautan dan Perikan, Fredy Numberi pada Rapat Koordinasi Sail Bunaken tanggal 16 September 2009, dihadiri oleh Panglima Angkatan Bersenjata serta Perwakilan eselon 1 lintas departemen dan lembaga non departemen serta pemda Provinsi Sulawesi Selatan Utara dan Maluku.

 

AGENDA

 

Sail Banda 1020 akan mengambil tema utama “ Small Island For Our Future “ artinya pulau-pulau kecil unutk masa depan kita. Tema ini diambil karena Maluku sebagai lokasi kegiatan ini merupakan provinsi yang srtuktur geografisnya didominasi oleh pulau-pulau kecil. Sekaligus sebgai wilayah yang sangat terncam dengan isu perubahan iklim maka sangat relevan kalau diskusi difokuskan pada dampak perubahan ilkim pada pulau-pulau kecil. Suatu agenda yang menarik untuk dipahami oleh Forum Provinsi Kepulauan.

 

Tema utama tersebut di atas akan dibahas dalam suatu konferensi internasional tentang pulau-pulau kecil melibatkan 38 Negara pulau kecil (Small Island Developping States /SIDS). Sejumlah pembicara internasional dan nasional akan diundang untuk menyampaikan pemikiran kritis terhadap isu yang dibahas. Direktorat Jenderal Kelautan, Pasir dan pulau-pulau kecil, departemen Kelautan dan Perikanan bertanggung jawab mengurusi konferensi ini.

 

Event yang direncanakan berlangsung antara 27 Juli sampai 8 Agustus 2010 ini memiliki sejumlah agenda utama berupa yacht rally and race, kerjurnas olah  raga perairan dan game fishing, internasional diving tournament, Arafura games, internasional conference on small island, konferensi kerjasama Indonesia-Australia, internasional seminar on “ sago and spices for food safety, seafood and fish product expo, lintas nusantara remaja bahari, peringatan Kemerdekaan RI Di Maluku Barat Daya, operasi “ Surya Baskara Jaya “ dan Navy to Navy talk and port visit. Agenda ini masih terus berkembang jika ada ide-ide cemerlang berkembang dari daerah.

 

Ada jumlah event nasional dan internasional lain diluar agenda Sail Bunaken yang dapat digabungkan untuk meramaikan Kota Ambon antara lain :1) Konferensi nasional pesisir dan pulau-pulau kecil yang melibatkan peserta 500 sampai 1000 orang,2) Senior Official Meeting (pertemuan eselon 1) dan Ministerial Meeting (Pertemuan tingkat menteri) dari 6 negara wilayah segitiga terumbu karang (Coral Triangle) yaitu Indonesia, Malaysia, Filipina, Timor Leste, Papua New Guinea dan Salamon Islands.

 

MALUKU HARUS BIKIN APA?

 

Acara akbar seperti ini dipahami sangat didambakan masyarakat Maluku sejak lama. Maka kesempatan emas ini jangan disia-siakan. Inilah momentum untuk merupah image secara nasional bahkan internasional tentang Maluku. Untuk itu diperlukan kerjasama pemerintah provinsi dan kabupaten/kota serta masyarakat untuk raih kesuksesan. Kerjasama tersebut berwujud persiapan sampai datanganya hari H karena waktu tinggal 10 bulan. Ingat ! Sail Bunaken dengan segala kesuksesannya membutuhkan persiapan 3 tahun. Maka Sail Banda Butuh kerha lebih keras lagi yang prosesnya diawali dari sekarang karena waktunya relative singkat.

 

Sail Banda dapat  disebut acara akbar karena diperkirakan Kota Ambon akan dibanjiri manusia sekitar 5000an orang melebihi daya dukung Kota Ambon. Sebgai pembanding, Kota Manado dikunjungi 8000an saat Sail Bunaken dengan jumlah uang yang beredar saat itu sekitar 3-4 milyar per hari. Maka tidak berlebihan juga kalau disebut acara sebagai peluang emas bagi Kota Ambon dan Maluku secara umum memenfaatkan peluang yang ada.

 

Ada beberapa manfaat momentum ini antara lain: a) mendorong investasi swasta dan pemerintah (bandingkan dengan Kota Manado) dalam hal jumlah hotel dan infrastruktur lainnya), b) mempromisikan Maluku dimata nasional dan dunia sebagai destinasi wisat kelas dunia, c) menjadikan Maluku sebagai pintu gerbang timur Indonesia, d) mengebangak potensi kelautan dan perikanan Maluku untuk kesejahteraan rakyat, e) memberikan peluang bagi lembaga pendidikan tinggi teristimewa Universits Pattimura untuk mengangkat isu local menjadi nasional dan internasional seperti sagu dan rempah-rempah untuk ketahan pangan serta pemikiran-pemikiran soal perubahan iklim. Optimalisasi manfaat sangat bergantung pada inisiatif dan daya cipta daerah terhadap peluang-peluang yang ada.

 

Menkokesra menyambut baik ide Sail Banda ini. Bahkan beliau memberikan arahan-arahan konstruktif pada rapat koordinasi yang antara lain berupa: a) pemerintah daerah haruslah aktif mendesak ke pusat untuk rapat koordinasi setelah kesiapan daerah dimatangkan, b) APBN dan APBD harus dipotimalkan untuk event 2010 ini tetapi diidentifikasi juga hal-hal yang belum terliput dan besarnya, c) perlu dijustifikasikan mengapa perlu budget khusus serta apakah perlu keputusan presiden sebagai dasar koordinasi. Kesemuaanya ini sudah terjawab saat rapat koordinasi yang akan dilaksanakan pada tanggal 10 Oktober 2009

 

SOAL SAMPAH

 

Sampah ternyata merupakan suatu substansi khusus yang dibicarakan dalam rapat berdasarkan pengalaman di Manado. Diskusi ini sekaligus mengingatkan Maluku dalam kaitannya debgan acara tahun depan. Sampah di Kota Ambon telah menjadi masalah serius menurut waktu. Hal ini mengindikasikan bahwa kesadaran masyarakat juga menurut waktu. Fakta ini mengingatkan urgensi tindak proses penanganan efektif oleh pemda via pelihatan masyarakat. Selama ini upaya bersih pantai seperti yang dimotori pemerintah kota dan Pangdam tetapi dampaknya hanya sesaat. Dibutuhkan juga upaya lain yang bersifat permanen untuk kepentingan jauh ke depan.

 

Marilah kita semua secara berjamaah mengumbuli agenda ini sambil bekerja agar semua terwujud sesuai rencana dengan sukses sesunggunya ungkapan “ ringan sama dijinjing berat sama dipikul “ menjadi kenyataan di Maluku, Amin.

 

Sumber : Ambon Express 29 September 2009

 

Terakhir Diperbaharui pada Senin, 16 November 2009 15:26
 

Tulis Komentar


Kode Securiti
Refresh