Berita Lowongan Kerja Terbaru
Hidup Orang Basudara di Maluku

Mari Gandong, Mari Sombayang di Rumah Tuhan

GERIMIS yang semula membuat sejumlah wajah nampak cemas, perlahan mulai berlalu. Awan hitam yang menggantung di atas negeri itu, juga sudah menghilang.

Sejurus kemudian, langit mulai membiru. Cerah. Secerah wajah warga tiga negeri yang sejak beberapa hari ini tumpah di negeri gandong mereka, Kariu.

Negeri kecil yang ada di Kecamatan Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah ini, lagi ada hajatan, pada hari Minggu (2/7) kemarin. Ikut berpartisipasi pada hajatan ini, negeri yang punya ikatan kekerabatan "gandong" (kandungan) Kariu, yaitu Negeri Booi di Kecamatan Saparua, Kabupaten Maluku Tengah (Malteng), Negeri Aboru di Kecamatan Pulau Haruku, Malteng dan Negeri Hualoy yang mayoritas warganya Muslim di Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat.

Memasuki Kariu, ada sejumlah baliho besar bertuliskan ucapan selamat untuk "Pentahbisan dan Peresmian Gedung Gereja Ebenhaezer, Jemaat Gereja Protestan Maluku (GPM) Kariu", dipasang pada beberapa sudut negeri.

Kemeriahan semakin terasa, ketika Gubernur Maluku Said Assagaff, Bupati Maluku Tengah Tuasikal Abua, sejumlah anggota DPRD Provinsi Maluku, dan rombongan merapat dengan speed boat di labuang negeri. Jembatan dan bibir pantai di labuan negeri, yang tadinya sepi, sontak ramai dengan warga.

Usai menikmati lagu "Selamat Datang di Negeri Kami", persembahan puluhan anak SD Kariu, rombongan yang diiringi grup musik suling bambu ini, lantas disambut tari lenso, sebelum akhirnya menempati area VIP. Acara puncak pun dimulai.

Lonceng pertama di gereja baru dibunyikan sebagai pertanda dimulainya prosesi. Bersamaan dengan itu, Majelis Jemaat bersama anggota jemaat melangkah dari dalam gedung gereja lama, menuju gedung gereja baru.

Nampak terlihat pada iring-iringan tersebut, Ketua Majelis Jemaat membawa Alkitab ukuran besar, dalam keadaan terbuka. Sedangkan Majelis Jemaat membawa alat-alat Perjamuan Kudus. Mereka berhenti persis di depan gerbang gereja baru.

Sementara di pelataran gereja, sejumlah perempuan berjilbab, membentang "kain gandong". Kain berwarnah putih sebagai simbol pemersatu tanpa membedakan suku dan agama itu, dibentangkan di sisi kiri dan kanan pintu masuk gereja.

Suasana yang tadinya ramai, penuh suara obrolan sana sini, tiba-tiba hening. Sebuah suara menyapa hadirin, lantas mengumandangkan Kapata.

"Basudara tuang hati jantong. Trap-trap jalan ini, katong anak-anak negeri Hualoy Sama Ohy Ririnita pung tampa tangan par gandong Kariu Leamoni Kamasune.

Tampa tangan ini adalah tampa tangan orang gandong bajalang maso di gareja par somba Isa Almasih.

Ingatang bae-bae, ini jalan orang-orang kudus, deng ini jalan orang gandong. Mari gandong, mari maso sombayang di rumah Tuhan ini".

Suara itu ternyata milik pemangku adat Negeri Hualoy, yang dengan lantang menyampaikan harapan mereka bagi negeri dan jemaat Kariuw yang membuat suasana semakin hening.

Keheningan semakin terasa, ketika suara penuh wibawa dari Wakil Imam Masjid Hualoy R. Hehanussa menyampaikan "Pasawari" dengan menggunakan "bahasa tana" sambil mengundang prosesi pelayan GPM dan warga Jemaat GPM Kariu untuk memasuki pelataran gereja, membuat sebagian besar basudara gandong jadi merinding.

Sejumlah warga persekutuan Booi, Aboru, Kariu, Hualoy yang berada persis di anak tangga dan air depan gerbang gereja, nampak menyeka air mata. Ada yang terlihat nyaris "trance" mendengar "pasawari" tersebut.

Sahabat saya, jurnalis Harian Kompas, Frans Pati Herin yang berdiri bersebelahan, mengaku selama melakukan tugas jurnalistik, baru pada peristiwa ini dia merasa bulu kuduknya merinding. Matanya ikut berkaca-kaca melihat keharuan yang menyeruak pasca "Pasawari" disampaikan. "Ah, tadi saya lupa bawa kaca mata hitam, buat menyembunyikan mata saya yang berkaca-kaca," ujar lelaki asal Nusa Tenggara Timur ini, berbisik.

Saya sendiri juga ikut terbawa suasana. Seperti halnya Frans, mata saya juga berkaca-kaca. Untung masih bisa saya sembunyikan di balik kamera, yang sengaja berada dalam posisi siap menjepret.

Sebelum semua yang hadir, larut dalam suasana yang terkesan sakral itu, Gubernur, Bupati Malteng beserta Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM Pdt. A.J.S. Werinussa dipersilahkan menandatangani Prasasti Pentahbisan dan Peresmian Gereja.

Usai penandatangan prasasti, para pemangku adat, pemuka agama dan raja dari Ikatan Persekutuan BAKH serta dari negeri lainnya di Pulau Haruku membaca "Kapata Orang Basudara" (Janji Persaudaraan) secara bersamaan.

"Di atas tanah Lemoni Kamasune, di pelataran Gedung Gereja ini, katong Kapata par samua orang dengar:

Beta Kariu, Beta Booi, Beta Aboru, Beta Hualoy, Beta Pelauw dan Ory, Beta Kailolo, Beta Kabauw, Beta Rohomoni, Beta Haruku, Beta Sameth, Beta Oma, Beta Wassu, Beta Hulaliu.

Katong samua Orang Basudara. Mari Jaga Negeri, Mari Jaga Gereja, Mari Jaga Masjid, Mari Bakukeku Jang Bakukuku, Mari Bakubae Jang Bakalae. Ingatang katong pung kapata: "Jaga Hidop Orang Basudara".

Usai pembacaan Kapata dan penandatanganan naskahnya, Gubernur, Bupati Malteng, Ketua Sinode GPM dan rombongan serta seluruh Orang Basudara yang ada, lantas masuk ke dalam Gereja Ebenhaezer untuk mengikuti prosesi selanjutnya.

Kepada saya, aktivis Peace Provocateur (Provokasi Perdamaian) dan juga pekerja kemanusiaan, Jack Manuputty yang ikut merekam prosesi pentahbisan dan peresmian gereja ini, mengaku sangat bangga dengan pesan damai dari sebuah kampung kecil di Kepulauan Maluku ini.

"Acara peresmian dan pentahbisan Gedung Gereja Ebenhaezer, Jemaat GPM Kariu ini, berlangsung dalam suasana lintas iman yang kental. Ini bukan bentuk pembauran agama, melainkan ekspresi hidup persaudaraan yang telah terikat sejak leluhur," tutur Jacky yang juga Direktur Lembaga Antar Iman Maluku ini.

Jacky katakan, Negeri Hualoy yang beragama Islam memiliki relasi "gandong" (kandungan) dengan tiga negeri lain yang beragama Kristen, yaitu Negeri Kariu, Negeri Aboru, dan negeri Booy.

"Dalam tradisi ini, setiap susah dan senang harus dipikul bersama. Dalam tradisi ini, konflik bisa saja terjadi, tetapi tanpa upaya perdamaian mereka percaya bahwa laknat akan menimpa dan negeri akan susah. Dalam tradisi luhur ini, setiap perbedaan, termasuk agama, diterima sebagai kekayaan bersama yang harus dihormati dan dijunjung tinggi," paparnya.

Dalam pemahaman di atas, menurut Jacky, peresmian/pentahbisan Gedung Gereja Baru Jemaat GPM Kariu dirayakan bukan semata-mata sebagai suatu akta gerejawi, tetapi juga peristiwa adat dan budaya dalam bingkai "Orang Basudara."

Di dalamnya terlibat Negeri Aboru, yang membuat meja-meja perjamuan gereja, Negeri Booy yang membuat mimbar gereja Kariuw, dan Negeri Hualoy yang membuat pelataran termasuk anak tangga dan jalan masuknya.

Nuansa Orang Basudara itu kian terasa, lantaran pada proses pembangunan gedung gereja ini, negeri-negeri Muslim yang bertetangga dengan Negeri Kariu, seperti Negeri Pelauw dan Ory, secara spontan turut terlibat mengulurkan tangan dan membantu pekerjaan pembangunannya.

Perasaan bangga juga disampaikan Gubernur Assagaff. Dia mengaku sangat bangga mendengar kisah pembangunan gedung gereja tersebut, yang disebutnya mengabadikan spiritualitas ikatan pela gandong, dan kekuatan simbolik yang luhur dan utuh.

Assagaff menegaskan, orang di Maluku sudah melewati apa yang disebut perbedaan. Sebab pela dan gandong menunjukkan bahwa, bagi orang di Maluku, perbedaan itu bukan hal yang harus dipertentangkan, melainkan suatu berkat yang patut disyukuri.

Sebab di sanalah, kata Assagaff, perdamaian itu disemaikan dan kemudian bertumbuh serta berbuah. Pela gandong, sesungguhnya telah menjadikan Maluku sebagai Laboratorium Perdamaian bagi dunia.

-SUMBER : Facebook Humas Pemprov Maluku @KabarDariMaluku

Read 300 times Last modified on Wednesday, 05 July 2017 17:15

About

Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Maluku

Jl. Dr. Latumeten, Perigi Lima - Ambon

No.Telp/Fax :0911 – 342460

Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.

 

           
 

INFO BMKG

Info Cuaca Tour De Molvccas 18-22 September 2017
 

Stage 1 - 18 September

Stage 2 - 19 September

Stage 3 - 20 September

Stage 4 - 21 September

Stage 5 - 22 September


 
INF BMKG-BPBD-STAKEHOLDER
Top